Jumat, 27 April 2012

Ada rasa sakit saat menatap mata Iqbal tadi. "Bal, mulai minggu depan, minggu depannya lagi, minggu depannya lagi, aku ga ngajar lagi," dan Iqbal diam. "Aku dah cariin ganti, namanya Steven, cowo, dia baik kok," Iqbal hanya menjawab "Oh, ya udah, terserah Ibu."Dan untuk pertama kali, kami ber-high five, inisiatif Iqbal yang memulai.

Saya sayang Iqbal. Sayang semua murid-murid saya tepatnya. Mungkin jauh lebih dalam dari perasaan mereka terhadap saya. Sedih rasanya tiap kali harus mengatakan perpisahan. Saya ingat bagaimana nama mereka selalu ikut terucap saat doa malam saya layangkan. Entah kenapa, mereka bisa jadi bagian hidup saya yang cukup dalam.

Saya ingin maju. Lebih pintar, lebih mahir dalam ilmu yang telah saya geluti sembilan semester lamanya, dan tentunya ingin punya penghasilan yang tetap dan menjanjikan. Maaf ya adik-adik muridku tersayang..harap kalian mengerti.I do really care about you. And, i do love you.

Minggu, 08 April 2012

Mari berhenti mengukur kebahagiaan orang lain dengan standard kita sendiri.
Orang dicintai bukan semata-mata karena dia "lebih" secara fisik. Jikalau demikian, mengapakah kamu mencintai sahabatmu?
Guru dihormati bukan sekedar karena wibawanya, namun juga ketulusannya.
Wania sukses yang belum menikah diusia belia, mencibir si ibu muda dengan anak tiga, walau usia masih kepala dua. Si ibu muda mengejek sang gadis eksekutif muda, karena kesendirian tampak terus mengungkungnya. Keduanya bahagia, dengan cara yang berbeda, namun membuat pakemnya sendiri sebagai dasar penilaian.

Mari berhenti menghakimi.

Kamis, 15 Maret 2012

doa?

Tuhan sayang..
Saat ini mata imanku terlalu lemah untuk mencari dimana Engkau. Dengan segala hormat aku mohon maaf. Satu hal yang aku minta, pun jika aku dilayakkan meminta. Aku mau jadi jawaban. Terlalu lelah dengan segala kebobrokan yang boleh aku saksikan. Kemiskinan yang tak layak, penyakit, hukum yang memihak.. terlalu banyak hingga mataku berair saat ini Tuhan..

Hak prerogratif adalah milikMu atas semesta jagat raya, aku tahu. Namun kiranya buat aku mengerti, Tuhan. Setidaknya berikan yang tadi kuminta: jadikan aku jawaban. 

Karena aku lelah bertanya dan marah.